Balada Antena Penguat Sinyal Wi-Fi

So, it’s been going on for several days now: the project of membikin antena wi-fi sendiri. Si papa yang punya kerjaan…

Dia beli penggorengan dari baja dan tirisan mie beruji radial, gagangnya dipotongin, trus dipasangin ini-itu, kabel (dan ada juga led berkilauan), disambungin ke modem, modem dicolokin ke komputer, dan koneksi dimulai.

Ternyata gagal.

“Kok ga bisa ya?” keluhnya.

I didn’t want to laugh but I did. Mungkin melukai hatinya, mungkin mendzolimi self-esteem-nya, maaf. Tapi sungguh, bagi saya ini adalah menggelikan. Sebab pertama, dia bilang sendiri, itu antena penguat sinyal. Sementara kita nggak langganan koneksi wi-fi dan di sini nggak ada tetangga yang langganan wi-fi yang sinyalnya bisa ‘ditumpangin’. Kalo sinyalnya aja nggak ada, apanya yang mau dikuatin?

Ke dua, I never believed in anything gratisan. You get what you pay for. Kakak ipar saya selama bertahun-tahun nge-net Rp.0,-. Download bergiga-giga sampe harddisk-nya jebol, mobo mleduk, juga gratis. Bukan pake wi-fi sih, tapi gratis. Sempat juga saya ikutan ‘menikmati’ layanan internet gratis. Tapi gratisan nggak ada nikmatnya. Kalo lemot, kalo koneksi hilang lenyap tak berbekas dan dunia seakan kembali ke jaman penjajahan Jepang, dan saya merasa geram, saya malah bingung mau ngomelin siapa, secara koneksinya aja ‘nyolong’. Nah, pake gretongan itu berdasarkan pengalaman, koneksinya nggak stabil. Sering juga malah putus di tengah jalan. Bikin frustasi. Frustasi nggak ada pelampiasan, akhirnya jadi depresi, lama-lama gila (lebay nih…) Akhirnya saya menyerah, saya pilih bayar. Biar mahal asal selamat.

Ke tiga, kalo memang antena penguat sinyal wi-fi bisa menyediakan layanan broadband gratis kepada penggunanya, saya yakin hari ini sudah banyak yang ngenet pake wi-fi di rumah. Nyatanya? Saya liat cafe berembel-embel ‘hotspot’ masih kaya’ rumah ibadah jamaah laptopiyah. Dan alun-alun kota yang menyediakan wi-fi gratis, juga masih banyak penongkrong yang notabene rela menyerahkan tetes demi tetes darahnya pada nyamuk-nyamuk liar penghuni area tersebut hanya demi wi-fi gratisan. So I don’t believe this DIY project would come to an happy ending. Dan, yang lebih getir lagi, demi ini semua saya jadi semacam tersisihkan (ini nih inti permasalahannya..! hahahaha) Seluruh waktu luangnya dikerahkan demi “antena penguat sinyal wi-fi”.

Iklan

2 responses

  1. Asli kocak ni misuanya si Cika.
    LOL

    Gw jg setuju ni soal gretong2an gitu. Enak sih enak, tp jgn berharap selalu enak, pasti ada ga enaknya kl yg gretongan itu. ASal ikhlas ya udalah nikmatin, hahahah.

Ngerumpi yuuk...!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s