Andai Dulu Sudah Ada CityVille…

Biasa kalo masih muda, jomblo, kerjaannya kan gebat-gebet. Saya juga pernah muda, meski agak-agak lupa kapan saya pernah jomblo maupun gimana rasanya *plakk* tapi saya ingat, saya pernah menggebet seorang senior di kampus. Tapi yaaah… rasa tertarik tinggal rasa, karena saya nggak tau gimana cara mendekatinya. Dunianya seakan jauh sekali dari dunia saya. Sejauh Uranus dengan Merkurius. Mau alesan minta tolong anter sini anter situ, dia sendiri ke mana-mana naik angkot. Alasan pinjem buku, dia sendiri pinjem. Alesan pinjem sempak ya malah nggak mungkin. Hahahaha…!! Akhirnya saya hanya bisa merelakan dia menjomblo selama bertahun-tahun, sementara saya macarin yang lain.

Bertahun-tahun kemudian, ketika bahkan saya sudah nggak ingat kalo di dunia ini ada makhluk seperti dia, kita ‘ketemu’ lagi via Facebook. Tapi cuma add as friend and disappear. Frekuensi interaksi sama dengan nol. Dia nggak pernah nyapa, saya juga nggak merasa perlu atau ingin menyapa. Tau kalo dia masih hidup aja sudah lebih dari cukup.

Kemudian, beberapa hari yang lalu saya berkenalan dengan game Facebook yang berjudul CityVille. I know… I know it’s not a new game dan saya telat banget baru main sekarang. Selama ini saya nggak tau kalo CityVille itu seimut itu, selucu itu, dan semengecandui itu (‘mengecandui’, dari kata dasar ‘candu’, hehe…) Tadinya saya pikir ya kaya FarmVille gitu, membosankan.

Setelah 2 hari main CityVille, saya baru nyadar kalo ada game request untuk ikutan main CityVille yang sudah ngendon di Facebook saya bahkan sebelum saya pernah dengar nama CityVille. Request itu dari dia. Singkat cerita, request-nya saya terima dan kami pun bertetangga di CityVille.

Di CityVille, salah satu cara untuk bisa cepat naik level dan menyelesaikan semua ‘goal’ yang ditugaskan, kita musti saling membantu dengan para tetangga. Jadilah saya dan dia sering berinteraksi, meski sebatas urusan nge-game dan hubungan saya dan dia juga sama aja dengan hubungan saya dengan tetangga-tetangga saya yang lain di CityVille. Cumaaan, saya jadi mikir:

Andai sebelas taun lalu sudah ada CityVille, mungkin saya nggak sampe bingung nyari cara PDKT-in dia. Mungkin saya nggak macarin orang lain dan seterusnya dan seterusnya sehingga hidup saya bukan hidup saya yang sekarang saya jalani, dan saya bukan saya yang tiap hari saya dengar nafasnya ini.

Bukan, saya bukan sedang menyesali hidup saya, atau menyesali CityVille yang telat lahir. Tapi saya juga bukan merasa beruntung, atau terselamatkan dari semacam petaka. Hanya semacam dicolek oleh semacam fakta, bahwa betapapun sesuatu hal dalam hidup ini nampak tak berarti, sesungguhnya hal itu berpengaruh besar pada hidup kita. Dan seremeh apapun keputusan yang kita ambil kemarin, kita mungkin bukanlah kita yang hari ini kita lihat.

Iklan

Ngerumpi yuuk...!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s