Lazy Mommy Steamed Blackforest :)

Cooking is fun, oleh karena itu jangan sering-sering masak. Kalo udah sering kan jadinya nggak fun lagi tapi jadi biasa. Hehe…

Itulah alasan emak-emak yang males masak. Hehehe… Ada si ibu aja kok, soal hidangan tak perlu khawatir! Tapi kadang saya masak. Kemaren juga saya masak, bikin blackforest kukus. Berhubung saya nggak punya banyak waktu dan tenaga dan peralatan masak, bikin blackforest kukusnya pake tepung adonan blackforest kemasan aja. Ada kok di supermarket. Tinggal campur telur, mentega, margarin, kocok, kocok, kukus 5-10 menit, jadi. Wes, pokoknya ikuti instruksi pada kotak kemasan, dijamin sukses karena memang gampang banget. Kucing pun bisa!

lazy-mommy-steamed-blackforest

Sekotak adonan jadi 30++ blackforest mangkokan kaya gitu. Kecil-kecil sih... karena tujuannya buat anak kecil. Kalo mau bikin yang gedean, bisa, tapi kukusnya agak lamaan ya!

Biar spesial, sebelum dikukus, taburi adonan dengan parutan cooking chocolate. Trus kukus. Setelah dikukus, olesi whip cream (whip creamnya yang instan juga ada di supermarket), trus hias dengan strawberry, mangga, jeruk, atau parutan coklat lagi. Be creative. Trus dinginkan di kulkas sampe whip creamnya mengeras biar nggak clemotan ke mana-mana waktu dimakan. Kalo sampe clemotan, hadeeeh… musti ngelap mulut anak, mandiin lagi, musti ngepel, nyuci baju yang ikut keclemotan… Repot.

Balada Telinga Super

Konsekuensi dari memiliki pendengaran yang super, salah satunya adalah produksi tai kuping (earwax) yang lebih banyak ketimbang telinga biasa. Demikian dikutip dari sumber yang takut disebutkan identitasnya; mungkin sadar bahwa kesimpulannya tidak berdasar. Tapi begitulah, kuping saya tak henti memproduksi kotoran. Dalam sehari saya harus membersihkan telinga minimal tiga kali. Kalo nggak segera dibersihin, gatalnya bukan main menyiksa. Akibatnya, dalam sebulan saya menghabiskan sekitar 300-400 batang cotton buds, tergantung banyaknya produksi kotoran. Dan produksi kotoran tergantung beratnya kerja telinga.

cotton buds

Cotton buds


Berdasar pengamatan saya, produksi kotoran meningkat ketika telinga dipakai untuk mendengarkan musik, terlebih kalo dengerinnya pake earphone. Selain itu juga ketika pendengaran terpapar pada polusi suara. Bisa ndlewer-ndlewer tuh tainya. Eeeww… Selain musik, gangguan dalam telinga biasanya juga meningkatkan produksi tai. Yang sering jadi pengganggu dalam telinga adalah jerawat. Yes, jerawat yang tumbuh dalam lubang telinga. Kalo ini terjadi, siksanya tujuh neraka. Sakit bukan kepalang plus gatal bukan main tapi disentuh dikit aja sakitnya makin sakit dan gatalnya makin gatal. Jangankan usapan cotton bud, suara anak nangis aja bisa bikin sakitnya makin merajalela sampe kepala rasanya mau pecah. Kalo sampe ada jerawat dalam telinga, saya wajib mengkarantina diri sendiri karena ketika itu terjadi, biasanya saya bakal nangis nggak karuan menahan sakit. Minum obat anti-nyeri, anti-biotik, anti-pornografi juga nggak mempan. Ya, agak berkurang sih sakitnya, tapi masih sakit. Mungkin sakitnya bisa hilang kalo disuntik bius.

Emang sesuper apa sih pendengaran Cika? Super banget… mendengar dari jarak jauh, menangkap suara-suara lirih di tengah keributan… saya juga sering dengar bisikan setan. Eh?! Hahaha… itu sih semua juga bisa! Makin super kalo tengah malam, rasanya segala macam suara di dunia ini nyampe ke kuping saya. Karena hal itu juga saya jadi susah tidur. Karena ngoroknya tetangga, suara motor di kejauhan, suara angin di jalan, cekekeh kuntilanak, dsb kadang bukan musik yang membuaikan.

Ngemeng-ngemeng soal kebutuhan cotton buds yang segitu banyaknya… Well, harganya sih nggak seberapa… Cuman kalo ada alternatif yang lebih murah kan lebih baik. Rasanya pengen ganti pake korekan kuping yang dari stainless steel. Dulu saya punya, dan saya kantongin selalu biar selalu accessible setiap saat dibutuhkan. Waktu punya korekan kuping itu, saya nggak perlu menyiapkan 400 cotton buds setiap bulan, dan yang terpenting, kuping bersih selalu. Ya, pake korekan kuping hasilnya lebih bersih ketimbang pake cotton buds. Pake cotton buds kadang rasanya kotoran telinga terdorong ke bagian liang telinga yang lebih jauh ke dalam dan numpuk di sana sehingga kadang saya budeg. Literally budeg. Bolot. Itu nggak pernah terjadi selama saya pake korekan kuping yang dari besi. Selain itu, cotton buds lebih sering menimbulkan nyeri dan luka di lubang telinga akibat gesekannya. Sedang kalo pake besi nggak pernah. True story.

Tapi, namanya barang mungil di kantongin, pada suatu hari saya lupa ngeluarin waktu mau nyuci. Keluar dari mesin cuci, korekan kupingnya sudah nggak ada. Kemudian mesin cucinya rusak. Kemudian mesin cucinya diserviskan. Kemudian sama tukang servisnya ditemukan sebuah korekan kuping sudah bengkok nggak karuan. Tamatlah riwayat korekan kuping saya tercinta. Saya cari gantinya ke mana-mana nggak ada yang jual. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, akhirnya saya menyerah. Ya sudah pake cotton buds saja meski pendengaran kadang rusak dibuatnya.

Tapi andai pembaca punya korekan kuping yang masih oke dan nggak dipake, saya akan dengan sangat senang hati mewarisinya, atau membelinya dengan harga yang pantas kalo memang dijual.

Andai Dulu Sudah Ada CityVille…

Biasa kalo masih muda, jomblo, kerjaannya kan gebat-gebet. Saya juga pernah muda, meski agak-agak lupa kapan saya pernah jomblo maupun gimana rasanya *plakk* tapi saya ingat, saya pernah menggebet seorang senior di kampus. Tapi yaaah… rasa tertarik tinggal rasa, karena saya nggak tau gimana cara mendekatinya. Dunianya seakan jauh sekali dari dunia saya. Sejauh Uranus dengan Merkurius. Mau alesan minta tolong anter sini anter situ, dia sendiri ke mana-mana naik angkot. Alasan pinjem buku, dia sendiri pinjem. Alesan pinjem sempak ya malah nggak mungkin. Hahahaha…!! Akhirnya saya hanya bisa merelakan dia menjomblo selama bertahun-tahun, sementara saya macarin yang lain.

Bertahun-tahun kemudian, ketika bahkan saya sudah nggak ingat kalo di dunia ini ada makhluk seperti dia, kita ‘ketemu’ lagi via Facebook. Tapi cuma add as friend and disappear. Frekuensi interaksi sama dengan nol. Dia nggak pernah nyapa, saya juga nggak merasa perlu atau ingin menyapa. Tau kalo dia masih hidup aja sudah lebih dari cukup.

Kemudian, beberapa hari yang lalu saya berkenalan dengan game Facebook yang berjudul CityVille. I know… I know it’s not a new game dan saya telat banget baru main sekarang. Selama ini saya nggak tau kalo CityVille itu seimut itu, selucu itu, dan semengecandui itu (‘mengecandui’, dari kata dasar ‘candu’, hehe…) Tadinya saya pikir ya kaya FarmVille gitu, membosankan.

Setelah 2 hari main CityVille, saya baru nyadar kalo ada game request untuk ikutan main CityVille yang sudah ngendon di Facebook saya bahkan sebelum saya pernah dengar nama CityVille. Request itu dari dia. Singkat cerita, request-nya saya terima dan kami pun bertetangga di CityVille.

Di CityVille, salah satu cara untuk bisa cepat naik level dan menyelesaikan semua ‘goal’ yang ditugaskan, kita musti saling membantu dengan para tetangga. Jadilah saya dan dia sering berinteraksi, meski sebatas urusan nge-game dan hubungan saya dan dia juga sama aja dengan hubungan saya dengan tetangga-tetangga saya yang lain di CityVille. Cumaaan, saya jadi mikir:

Andai sebelas taun lalu sudah ada CityVille, mungkin saya nggak sampe bingung nyari cara PDKT-in dia. Mungkin saya nggak macarin orang lain dan seterusnya dan seterusnya sehingga hidup saya bukan hidup saya yang sekarang saya jalani, dan saya bukan saya yang tiap hari saya dengar nafasnya ini.

Bukan, saya bukan sedang menyesali hidup saya, atau menyesali CityVille yang telat lahir. Tapi saya juga bukan merasa beruntung, atau terselamatkan dari semacam petaka. Hanya semacam dicolek oleh semacam fakta, bahwa betapapun sesuatu hal dalam hidup ini nampak tak berarti, sesungguhnya hal itu berpengaruh besar pada hidup kita. Dan seremeh apapun keputusan yang kita ambil kemarin, kita mungkin bukanlah kita yang hari ini kita lihat.