Inspirasi Menulis Novel [Part 1]

Gara-gara niat ikutan NaNoWriMo taun ini, saya jadi semacam heboh nyari-nyari inspirasi dan panduan menulis. Padahal sebetulnya kan nggak perlu-perlu amat ya… Kalo mau lihai menulis, menulislah! Tapi ya namanya juga orang excited jadi wajar. 😛

Ke toko buku kapan hari, bukan beli buku tapi ‘survey’ novel jenis apa yang lagi laku sekarang ini. Ternyata masih novel tentang vampir-vampir kece. Aduh, nggak banget. Nggak demen bacanya, apalagi nulisnya. Di luar jenis novel ‘paranormal’, ada dua novel yang ide ceritanya menarik, menurut saya pribadi. Pertama dari novel When Patty Went To College karya Jean Webster.

When Patty Went To College

When Patty Went To College

Pura-pura sakit supaya masuk rumah sakit dan dijadwalkan ujian susulan, menciptakan tokoh siswi fiktif yang membuat heboh satu asrama, taktik unik dan lucu saat belajar di kelas agar tetap terlihat pintar…. Itu cuma sedikit dari segudang keisengan Patty. Ya, gadis cerdas dari sekolah asrama St. Ursula itu, kini melanjutkan studinya. Dunia kampus tak membuat keisengan Patty Wyatt berkurang. Bersama sahabatnya, Priscilla dan Georgie, mereka belajar, dan tentu saja, melakukan banyak keisengan. Ehm… mungkin lebih banyak melakukan keisengan dibanding belajar. Patty memanfaatkan kecerdasannya untuk berkelakar dan melakukan hal-hal jail demi kesenangan dirinya dan teman- temannya. Namun, hidup tentu tak selalu dapat diisi dengan kelakar. Bagaimanapun Patty harus menyiapkan dirinya untuk kehidupan yang lebih luas selepas kuliah. Akankah Patty memahami hal tersebut, ataukah ia harus disadarkan dengan cara tertentu? Novel ini merupakan kelanjutan dari Just Patty. Kisah klasik yang penuh liku tentang gadis-gadis muda di kampus Amerika pada awal abad 20. Tak kalah seru dan kocak dibanding kisah Patty Wyatt sebelumnya.

Menarik kan? Tapi sayang itu novel terjemahan. Terus terang, saya semacam ‘alergi’ baca buku terjemahan. Hahahahaha!! *dilemparin becak sama pembaca* Maksut saya, kalo yang terjemahan kan musti beli di toko buku. Sedang kalo yang dalam bahasa asli, bisa baca online di sini.

Jean Webster tergolong penulis jadul alias jaman dudul ,,eh,,, jaman klasik. Berhubung literatur klasik adalah makanan saya banget, nama Jean Webster sama sekali tak asing di telinga saya. Komentar positif tentang karya-karyanya juga sering kedengaran. Tapi sayang, saya belum pernah baca satupun dari semua bukunya. Yang paling populer, Daddy Long Legs pun belum! Hehehehe… Tapi abis gini saya pasti bakal menghabisi karya-karya Jean Webster… wong ada di sini aja kok, tinggal pilih dan download.

Novel ke dua yang saya temukan cukup menarik di toko buku adalah Nina van Coupen by Alex Gunawan. Namun betapapun menariknya, saya tetep nggak minat beli, cukup baca sinopsisnya aja. (aslinya pengen beli cuman nggak punya duit)

Nina van Coupen

Nina van Coupen

Jember, 1941 Sebuah kota kecil di Jawa Timur yang tenang. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Kehadiran Nina van Coupen mengguncang kota ini. Nggak tanggung- tanggung, nona Belanda ini melibatkan hampir seisi kota dalam konflik antara dua negara. Inilah kisah antara anak sang penipu dan putri Belanda. Walaupun agak “terpaksa”, persahabatan mereka terbukti mampu melawan preman bule SRMP (Sekolah Rakyat Menengah Pertama), bahkan ninja kiriman Jepang.

Menarik… Dari membaca sinopsis pendek itu, saya bisa membayangkan detil ceritanya. Maksut saya bukan detil cerita yang sudah ditulis Alex Gunawan, tapi detil cerita karangan saya sendiri. Entah nanti apa ya saya nulis yang model van Coupen gini, atau model Patty-nya Jean Webster, atau yang lainnya. Belum diputuskan.

Selanjutnya, buat yang serius pengen jadi penulis, kapan hari pas main ke perpus saya nemu buku yang oke banget buat calon penulis besar masa depan. Judulnya Themes for Writers yang disusun oleh Joyce S. Steward. Isi buku ini adalah wejangan-wejangan, tips, dan inspirasi dari penulis-penulis besar yang tiada duanya macam E.M. Forster, Isaac Asimov, William Faulkner, James Baldwin, Joseph Reynolds, F. Scott Fitzgerald, George Orwell, Henry David Thoreau, dsb. Mantab taaaak?!! Yang ini saya sudah baca, sumpah manteb banget bukunya! Pokoknya wajib dibaca semua yang pengen mengembangkan skill menulisnya. Lain kali saya ulaskan secara khusus. Sementara segini dulu,, capek ngetik. 😛

Iklan

Lazy Mommy Banana Ice Cream ;D

Taukah Anda bahwa Anda bisa bikin es krim dari hanya satu bahan saja? Selain bahannya cuma satu, bikinnya juga gampang banget. Kucing pun bisa.

Siapkan pisang, terserah banyaknya berapa. Kupas, potong-potong sekenanya, trus simpan dalam freezer. Setelah beku, hancurkan dengan food processor atau blender yang masih kuat ngancurin benda sekeras es batu. Selesai.

Es krim pisang ini teksturnya selembut es krim vanila atau coklat dengan merk yang iklannya sering seliweran di TV. Dia lumerrr begitu nyampe di lidah. Hmmm… Cuman, buat yang nggak doyan cita rasanya pisang, sayang sekali, es krim pisang ini rasa pisangnya kenceng banget!

Untuk ‘mengelabui’ lidah kamu, campur dengan beberapa potong buah lain yang segar, yang rasanya dominan, dan kalo bisa, yang warnanya juga menyegarkan karena warna pisang kurang menggairahkan ketika udah lama lepas dari kulitnya. Saran saya sih, nangka, mangga, strawberry. Boleh juga disertai kismis biar es krim tampil lebih seru.

lazy mommy ice cream

Ini es krim pisangnya saya campur strawberry, trus dihias whip cream dan ditaburi parutan coklat.

Selain rekayasa rasa dengan buah, rasa pisang bisa juga ditutupi dengan beberapa sendok susu bubuk, atau sejumput vanili. Dicampur coklat dan taburan kacang-kacangan juga oke deh kayanya… Tapi saya belum pernah nyoba. Terpikir juga mau nyoba dicampur santan beku dan susu bubuk, plus bubuk vanila, kopi, atau kayu manis. Next time yow!

Hal lain yang perlu diingat dalam membuat es krim pisang ini adalah kondisi pisangnya. Sebaiknya pilih pisang yang sudah hampir busuk, yang kulitnya sudah kelihatan jelek dan dagingnya sudah agak terlalu empuk. Karena makin tua pisangnya, makin lembut tekstur es krimnya. Sedang makin muda pisangnya, makin kenceng rasa pisangnya ketika sudah jadi es krim. Selain itu, pisang yang kurang tua akan menghasilkan rasa es krim yang agak pahit.

That ‘Sexy’ Delight

Si papa berkeliaran di kamar sambil ngemil sesuatu. Saya lihat makanan yang di tangannya itu macam singkong goreng, tapi bentuknya kok lebih mirip tahu bulat; penasaran.

Saya: Apa itu?
Si papa: Nggak tau. Ayam kayanya…

Kemudian sepotong makanan di tangannya itu ditelitinya. Agaknya si papa juga ragu yang dimakannya itu benar ayam.

Saya: Bukan tahu?
Si papa: Ayam nih kaya’nya… tapi nggak tau juga ini bagian apanya ayam… Mungkin tumornya ayam.
Saya: Wakwakwakwakwak…

Nggak lama kemudian si ibu (mertua) mampir, memberitahukan pada saya kalo tadi beliau menggorengkan 2 buah zakar sapi tapi kemudian that ‘sexy’ delight kok hilang entah ke mana. Maksut beliau, skrotum itu buat lauk makan anak-anak saya. Oh my… Anak-anak saya mau dikasi makan zakar sapi??? Gpp sih, cuma aneh aja… Heuheuheu…

Saya tau, sebagian orang doyan makan zakar sapi (si ibu bilang itu namanya PRINCILAN SAPI). Saya juga tau, princilan sapi nggak berbahaya dikonsumsi manusia. Mungkin rasanya juga lebih enak ketimbang daging sapi, atau buntut sapi, atau bibir sapi (cingur). Entahlah, saya sama sekali nggak pengen tau. Bagi saya princilan sapi, atau princilan kambing, atau princilan apapun adalah hal yang terlalu ‘sakral’ untuk dikunyah dan ditelan.

big balls

In some cultures it is believed that a man eating a body part will gain the benefits of that body part.

Si ibu menghilang, si papa muncul lagi. Segera saya kabarkan, “eh, ternyata yang kamu makan tadi bukan tumor ayam lho… Ternyata princilan sapi. Udah tau belum?”

Si papa nampak mual-mual. Saya tertawa terkekeh-kekeh.